Selasa, 10 Mei 2016

Menulis Lagi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis,
 ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. 
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer



Mengutip kata Pramoedya dalam tulisannya di Bumi Manusia di atas,  kemudian tersimpulkan bahwa percuma menjadi orang sepintar dan secemerlang apapun jika tidak meninggalkan tulisan. Karena waktu terlalu terburu – buru dan kita teramat lamban untuk memanuskripkan cerita  kita sendiri.  Termakan rutinitas, berkarat oleh cuaca dan usia.

Alangkah mengerikan ketika kita terbangun di pagi yang cerah dan menyadari bahwa kata “Tua” sudah pantas disandang, sedangkan kita belum melakukan apa-apa. Jadi tidak ada salahnya untuk menata ulang cerita merangkum dan memulai lagi menulis blog ini setelah 6 tahun terbengkalai.

Oke selamat datang  di era post-milenia dimana semua sudah berjalan begitu cepat, dunia terasa sempit dan semua orang bisa mengakses apapun, dimana pun. mereka berselancar di bawah tanah, berselancar di atas langit terbalik, berselancar melewati gelombang, berselancar di antara pagi. Teknologi merajalela semua orang terwakili oleh gadget dan akun-akun maya, Informasi membanjiri semua lini masa, seperti lalu lintas jalanan Jakarta selepas jam lima petang. 

Masih teringat di hari pertama puasa di 2012, untuk kali pertama kalinya menginjak tanah jakarta setelah 6 tahun di ayunan nyaman Jogjakarta. Kota yang membuat kita susah move on untuk pergi darinya. karena jogja terlalu nyaman dengan semua kenangannya. Jakarta adalah list ketiga setelah mencoret dua list kemungkinan yang belum berpihak pada waktu itu. 


Reinhold Nieburh dalam doanya 1926, Tuhan, Berikanlah aku kebesaran jiwa untuk menerima hal-hal yang tak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah  dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.


Kamis, 02 Desember 2010

Telanjang mu itu tidak bulat


02 November 2009 jam 2:32
Lepaskan pelan pelan agar taring tumpul tak berongga di sebelah bangun dan mengawasi ketelanjangan mu kemudian fantasinya menari liuk seperti yang mereka bilang dalam buku panduan bercinta ala masokis ..

Ini perkara lain buka artivisual kamu dalam buaian fashion berbebal motif maya semi polkadot tua. Aku masih ingat saat kamu benar-benar hidup dan menghidupi alam bawah sadarku yang begitu menggeliut komentar miring tentang laminasi sisi luar yang tidak sebenarnya. Dan tidak ada diagonal garis phi dan rho yang menengahinya, hanya saja simetris ruang sintal sama rata dan siku. Aku tidak paham dan mengerti apapa tentang cara dan pola untuk menikmati segi rumit tentang situasi emosi dan kondisi manusiamu yang benar-benar bernada suram. Kesuraman yang nyaman. Aku mau melihatmu lagi tapi lain kali saat seperti suatu pagi di restorasi kereta saat dia sedang berhenti dalam jalur lambat yang jauh dari stasiun kota dan tanpa tujuan. Kamu selalu telanjang dan tidak bulat sama sekali.

erosi masa transit

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
13 Mei 2009 jam 0:16

Terlepas dari siapa menyisati siapa dan siapa yang tersiasati. Selimut sebra belang senja itu masih menutup rapat mata sebelah kanan yang sedikit merah akibat sindrom insomnia yang sedang marak menjangkit manusia di sekitarku. Ini bukan awal tapi masa pertengahan transit ku setelah beberapa waktu berada di perjalan pendek di jogjakarta stelah menyelesaiakan satu titik cerita ‘waru merah’. Temporari memang karena iktan benang merah memang semu dan tidak jelas. Penanda rasa yang sedang menurun dan akhirnya terputus dan lepas memang harus diakhiri karena aku telah tersiasati oleh manuver peenghianatan. Muncul nama-nam baru dengan aksara urban dengan segala penandanya. Dilihat dari sisi manapun aku ttak bisa menolak dan mengelak. Ya sudah lepaskan mak terlepas dengan tidak rumit sama sekali. Ini bukan perpanjangan cerita tapi sebuah erosi ku dalam pangkalan pos pertengahan dari masa transit saja. Ouw selimut belang tetap menutupi semua mata dan gelap , aku mau tidur.
Aku ta bisa tidur, sial masih ada sisa roko lagi dan pasangan teh anget menggoda untuk tidak tidur, ini hari kedua dari masa ini, dan sudah tidak terbesit tentang sajak waru abang lagi. Mungkin nilai kekebalan waru abang sudah bertambah dan nyaris mati rasa. Dan ajakan menuju wong-ndalan terekam dalam handphone. Yah rencna baru kususun untuk kembali ke cerita lamku saja. Menjadi lebih rumit, dimana status lama dari ceritalamaku masih tertera dalam hubungan dengan orang lain yang terhitung lama. Lalau bagaimana cetita semacam romeo juliet bisa bersimpati dengan lamunan baruku ini. Belum lagi aku tak begitu berpengalaman untuk yang satu ini dibanding dengan orang lama tadi yang lebih menyentuh sisi-sisi sensitive darinya. Ehm aku mulai bersiasat.

barisan penghisap asap!

29 April 2009 jam 22:39
tidak ada susuatu yang baru, yang ada cuman perbaharuan dari hal-hal yang lama, kata seorang berkumis tipis saat dji sam soe kretek ditangannya dengan logat jawa nya yang memang selalu khas dari seorang djarwo. ini bisa dikatakan sindiran , tapi aku lebih memaknai sebagai opini belaka yang sepertinya harus tak cerna sek ...

2 hari yang lalu sempat terbesit untuk mengubah atau refresh mind set ku tentang bagaimana melihat dan memandang sesuatu dari stereotip urban dan pola-pola kontamporer maklum aktualasasi dari peradaban lama ku yang terlalu sering terjangkit kemalasan akut. penyakit terngeri abad ini.
tapi coba bayangkan ketika kita dipaksa untuk membuat sesuatu yang baru, apapun itu... apakah kita memang benar-benar membuat hal baru...
kutanyakan pada seorang lagi kali ini dengan rokok lokal bintang buana jawabannya lebih simple, halah la wong sing anyar kuwi ra mesti apik, ben lawas sing penting well.
segi kualitas perlu ditengok ulang mestinya. tapi kaitan orisinaliyas sedikit dipertanggung jawabkan. karena karya adalah hasil ejakulasi otak kita dalam merepresentasikansesuatu..

tambah ruwet..
komplikasi pola dan urat yang tak pernah rukun dan tidak segaris.
tidak ada kebenaran mutlak , yang ada hanya klaim-klaim kebenaran
kecuali kebenaranNYA..